"In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali
Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku – maka kuterima apa saja nasibku di dunia"

Rabu, 03 Januari 2018

Filosofi Menjemur Gabah

Filosofi Menjemur Gabah

Di daerah tempat tinggal saya yaitu di Kabupaten Grobogan, tepatnya di Desa Boloh yang berada di Kecamatan Toroh,  Pertanian masih merupakan sumber mata pencaharian utama masyarakatnya. Corak kehidupan masyarakatnya juga masih sedikit banyak bercorak Masyarakat Agraris. Banyak hal dan pelajaran berharga yang selama ini saya amati dan saya renungkan terdapat di kehidupan kami, salah satu yang selama ini baru saya sadari setelah lama saya renungkan adalah filosofi menjemur padi. Menjemur padi adalah cara tradisional yang dilakukan untuk mengeringkan gabah/padi yang sudah dirontokan. Biasanya di desa saya menjemur padi dilakukan di pelataran rumah dan dialasi dengan terpal/layar. 

Menjemur padi atau dalam bahasa Jawanya Meme Pari/mepe pari dilakukan agar padi yang telah selesai dipanen dan dirontokkan bulirnya menjadi kering dan tahan lama saat disimpan. Selain itu dengan berkurangnya kadar air didalam bulir padi pada saat diselep/dipisahkan dari kulit kasarnya akan lebih mudah lepas. Nah didalam kegiatan menjemur padi inilah yang menurut saya banyak menyimpan filosofi yang berharga. 
Saat menjemur padi, musuh utama yang selalu diwaspadai adalah Mendung,  apalagi kalau sampai turun hujan. 
Mendung adalah musuh utama

Saat mendung datang tentu saja pemilik padi akan sangat kuwalahan untuk mengumpulkan padi yang dijemur tadi lalu diangkat kedalam rumah atau di tutupi dengan terpal. Karena kalau padi ini kehujanan maka bisa saja padi akan rusak dan tidak laku dijual. Nahh saat mendung inilah para tetangga yang sedang tidak sibuk akan dengan sukarela membantu si pemilik padi, dengan tanpa komando apapun tetangga-tetangga ini akan berdatangan lalu ikut sibuk mengumpulkan padi dan menutup padi tadi dengan terpal sehingga pekerjaan tadi cepat selesai. 

Hal yang saya lihat dari kejadian ini adalah jiwa sosial dan jiwa saling tolong-menolong antar warga masih sangat tinggi, tanpa disuruh mereka dengan sigap memberikan bantuannya karena mereka sadar bahwa mereka tidak hidup sendiri, mereka sadar bahwa mereka hidup bermasyarakat. Dan juga mereka juga sadar bahwa disaat gantian mereka yang memerlukan pertolongan, pasti tetangga-tetangganya jugalah yang akan pertama kali menolong. Apalagi di Desa diantara tetangga kadangkala masih terdapat hubungan saudara dekat sehingga saling tolong menolong dan jiwa gotong-royong adalah hal yang biasa dan menjiwai perikehidupan masyarakat desa, inilah salah satu hal yang sangat membekas dalam kenangan saya akan kegiatan menjemur gabah ini. 

Jumat, 10 Juni 2016

Miras oh miras...

Miras oh miras...




Minuman Keras (Rasmi, eh Miraas)
Apapun Jenismuu....uuu...uuu...
Tak akan kuminum lagi dan tak kan ku sentuh lagi
Walau setetes


Begitulah lirik lagu Mirasantika ciptaan Bang Haji Rhoma Irama. Liriknya jelas menggambarkan kalau Bang Haji juga sangat benci dengan Miras, sama dengan saya. Miras atau Mimik'an Keras, sudah terbukti merupakan Minuman Setan yang menyebabkan banyak masalah sosial. Dengan mudahnya orang kehilangan akal sehatnya karena meneggak minuman ini. Orang yang sedang mabuk dengan entengnya membunuh
orang lain hanya karena masalah sepele. Miras adalah salah satu sumber penyakit Masyarakat.


Ada banyak kasus akibat konsumsi Miras ini, seorang anak tega membunuh ayahnya sendiri saat mabuk karena emosi tidak di belikan motor. Seorang Laki-laki paruh baya tega memperkosa seekor kambing jantan karena berhalusinasi akibat mabuk di barengi dengan teler narkoba, di matanya kambing jantan itu tampak seperti Miyabi yang sedang makan rumput (eh). Akhirnya Pria ini di tangkap saat sedang panas-panas nya menggumuli kambing jantan itu. Pria ini di tuntut di pengadilan dengan delik Pidana Pelecehan Seksual terhadap kambing. Akibat dari pelecehan ini si kambing menderita sembelit selama 1 Minggu.
Sungguh luar biasa bukan? Akibat mabuk Miras dan narkoba Pria ini bahkan tidak mampu membedakan mana kambing jantan dan betina. Luar biasa kiranya efek negatif minimal ini.
Sudah banyak pula kejadian para pemabuk ini masuk ke rumah sakit karena koleps akibat kebanyakan minum, dan lebih banyak lagi yang sudah pamit duluan masuk ke Alam Barzakh akibat minuman ini, Terutama akibat minum Oplosan. Oplosan ini adalah minuman khas asli Wong Gendheng Indonesia, karena sepertinya hanya di Indonesia saja minuman keras di racik sendiri dengan bahan-bahan yang luar biasa. Oplosan bahan dasarnya dari arak, diracik dengan Sprite, fanta, Bodrex, bahkan kadangkala di campur Soffel,Rinso, Harpic, Karbol, dan bahan-bahan ciamik lainnya (). Katanya, semakin banyak bahan campurannya rasanya bakal semakin “Nendang”. Kenapa gak sekalian di campur Sianida aja ya, biar rasanya ”Super Nendang”, biar sekalian Nyawanya di tendang keluar dari raganya menuju pelukan malaikat maut. Setujuu..???
Anehnya, banyaknya kasus kematian akibat konsumsi Miras Oplosan ini tak menyurutkan minat para konsumennya, agaknya otak orang-orang goblok ini sudah korslet akibat kebanyakan kesiram oplosan, sampai ancaman kematian tak menggentarkan kemauan mereka. Fatwa Haram MUI, Razia Polisi, sweeping FPI, himbauan dari Pak Bupati,Pak Camat, Pak Ustadz, Pak RT,bahkan Istri dan Anak kandungnya pun tak dihiraukan sama sekali. Saat di tegur agar jangan minum terus, bisa-bisanya orang-orang itu malah membantah sambil marah-marah, “ Sak senengku tho”,”seng ngombe aku kok seng geger kue”,”Rasah Ikut campur, iki HAM ku”. Begitu kira-kira jawaban mereka. HAM disini maksudnya adalah Hak Asasi Mendhem (Wanjir)
Kesimpulannya, ayo kita jauhi Miras. Karena sudah jelas merusak jiwa dan tubuh peminumnya. Orang pinter bisa jadi goblok tiba-tiba gara-gara Miras ini, buktinya tadi kambing pun di perkosa. Masih mending kalau kambingnya kambing betina, ini pu kambing jantan pula yang di gumuli. Ayo kita saling bekerja sama membatasi peredaran Miras di Masyarakat.

Bye-bye ^_^